Indonesia memiliki banyak ragam budaya. Dengan adanya ragam budaya tersebut Indonesia menjadi istimewa dari negara lainnya. Keistimewaan itu lah yang membuat diri saya bangga dengan Indonesia.
Dari banyak ragam budaya, saya suka mengikuti budaya Kalimantan dan Jakarta. Saya pernah tinggal disana selama sebulan dan beberapa kali saya kesana tapi tidak sampai sebulan. Disana saya belajar budaya orang kalimantan. Mereka berbicara menggunakan bahasa melayu. Walaupun kedengarannya mudah bahasanya mirip seperti bahasa Indonesia, banyak kata-kata yang baru saya pelajari. Ada juga yang menggunakan bahasa khek walaupun dari kecil saya sudah diajarkan. Namun, setelah saya mengenal dunia pendidikan saya cuek dengan bahasa itu dan pada akhirnya saya cuman bisa mendengarkan dari pada bicara. Padahal budaya bahasa itu sangat unik. Saya sebulan disana mencoba mulai bicara dengan bahasa Khek walaupun mungkin berantakan dan nada bahasa saya masih salah. Namun, saya tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Dari banyak ragam budaya, saya suka mengikuti budaya Kalimantan dan Jakarta. Saya pernah tinggal disana selama sebulan dan beberapa kali saya kesana tapi tidak sampai sebulan. Disana saya belajar budaya orang kalimantan. Mereka berbicara menggunakan bahasa melayu. Walaupun kedengarannya mudah bahasanya mirip seperti bahasa Indonesia, banyak kata-kata yang baru saya pelajari. Ada juga yang menggunakan bahasa khek walaupun dari kecil saya sudah diajarkan. Namun, setelah saya mengenal dunia pendidikan saya cuek dengan bahasa itu dan pada akhirnya saya cuman bisa mendengarkan dari pada bicara. Padahal budaya bahasa itu sangat unik. Saya sebulan disana mencoba mulai bicara dengan bahasa Khek walaupun mungkin berantakan dan nada bahasa saya masih salah. Namun, saya tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Agama??
Indonesia juga memiliki banyak ragam agama. Ragam agama tersebut yaitu Buddha, Hindu, Konghucu, Katolik, Kristen, dan Islam. Kalau kita bicara soal agama, saya sendiri pernah memutuskan, mau agama apa yang saya anut. Saya pernah ke Gereja Kristen, saya pernah Ke Vihara, saya pernah ke Kelenteng, dan saya pernah ke Gereja Katolik. Saya dari SD di sekolah Katolik sampai SMP dan saya terbiasa dengan ajaran-ajaran Katolik. Pada akhirnya saya pun merasa nyaman dan saya menemukan jati diri saya setelah saya kehilangan mama saya. Saya memutuskan untuk masuk ke Katolik. Walaupun saya berawal dari agama Buddha. Bukannya agama Buddha tidak mengajarkan tidak baik atau tidak nyaman. Namun, dulu saya hanya menggunakan agama tersebut sebagai identitas diri saja, dan saya akhirnya menemukan identitas diri saya yang sebenarnya.
Maka, kesimpulannya keistimewaan diri sebagai orang Indonesia memiliki ragam budaya, ragam agama, dan masih banyak lagi. Kita diberi kebebasan mau pilih apa. Kita punya hak mengambil keputusan untuk mencapai apa yang menjadi keistimewaan diri sebagai orang Indonesia itu sendiri.
Indonesia juga memiliki banyak ragam agama. Ragam agama tersebut yaitu Buddha, Hindu, Konghucu, Katolik, Kristen, dan Islam. Kalau kita bicara soal agama, saya sendiri pernah memutuskan, mau agama apa yang saya anut. Saya pernah ke Gereja Kristen, saya pernah Ke Vihara, saya pernah ke Kelenteng, dan saya pernah ke Gereja Katolik. Saya dari SD di sekolah Katolik sampai SMP dan saya terbiasa dengan ajaran-ajaran Katolik. Pada akhirnya saya pun merasa nyaman dan saya menemukan jati diri saya setelah saya kehilangan mama saya. Saya memutuskan untuk masuk ke Katolik. Walaupun saya berawal dari agama Buddha. Bukannya agama Buddha tidak mengajarkan tidak baik atau tidak nyaman. Namun, dulu saya hanya menggunakan agama tersebut sebagai identitas diri saja, dan saya akhirnya menemukan identitas diri saya yang sebenarnya.
Maka, kesimpulannya keistimewaan diri sebagai orang Indonesia memiliki ragam budaya, ragam agama, dan masih banyak lagi. Kita diberi kebebasan mau pilih apa. Kita punya hak mengambil keputusan untuk mencapai apa yang menjadi keistimewaan diri sebagai orang Indonesia itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar